Jumat, 31 Oktober 2014

Bismillahirrahmanirahim..


perlahan demi perlahan..
hati itu menemukan kekuatannya sendiri..
waktu yang terus berjalan mengajarkan banyak kedewasaan..
perlahan demi perlahan...
ketegaran mulai terukir, dimana didalamnya  mulai belajar untuk tak lagi merasa takut kehilangan,,
ambisi, ego, hasrat.. mulai dapat dikendalikan..
perlahan demi perlahan...
masih mencoba untuk terus belajar, belajar dan akan selalu belajar..
memaknai hakekat hidup menurut ajaran Ilahi..
memandang dunia tak lebih dari persinggahan..
ingin terus mendekat pada_Nya, satu-satunya dzat sempurna nan abadi..
satu-satunya tempat untuk memperoleh ketenangan sejati..
Allah SWT yang ingin terus dituju,..
berbekal rasa sabar, ikhlas, tawakal & pasrah yang terus dipupuk, berbekal itu pula kini hidup akan dijalani..
meski disadari kesalahan dan dosa masih sering diperbuat, namun tak ada kata menyerah untuk terus dapat menggapai ampunan_Nya..
dan masih dengan perlahan..
keyakinan akan janji Allah tak kan dibiarkan padam.
I love Allah so much, today & forever.
Aamiin






Selasa, 22 Juli 2014

Tolong Jaga Hatimu.. :'(

...........
Kepakan sayap-sayap kepercayaan  yang terus teruji..
menerjang badai yang terus akan datang silih berganti..
sekuat tenaga mengais jalan agar dapat terus bisa terbang tinggi..
meski luka kerap datang mengiringi..
torehan lara menerpa sanubari mengulir derita nestapa,
bongkahan alur yang masih panjang..
menyadarkan diri untuk tetap terus bertahan dan berjuang..
kekuatan Iman dalam hati yang akan menjadi peyelamat dalam titian panjang alur kehidupan yang sedang dan akan terus dijalani..
Ke-Maha'an_Nya menjadikan satu keyakinan yang akan terus terpatri dalam hati agar jiwa yang lemah dapat terus melangkah, tanpa lagi kenal lelah, tanpa lagi kenal kata menyerah...

Ya Allah,
Jika rasa ini salah maka hapuskan-lah..
Jauhkankah dan Ganti dengan yang lebih baik..
Namun jika rasa ini memang fitrah dan sudah menjadi suratan takdir_Mu,,..
Maka Kuatkanlah hamba..
Kuatkan Iman dalam hati hamba agar tidak salah melangkah..
Kuatkan Iman dalam sanubari hamba agar tetap bisa terus bersabar menanti dantangnya hari itu..
Jaga hati kami dalam Rahman dan Rahim-Mu,..
Bimbing dan tuntun kami agar selalu bisa menjaga kesucian rasa yang sudah Engkau gariskan untuk kami..

Duhai Engkau Sang Maha Pembolak-balik hati..
Hamba titipkan hati nya pada Engkau..
sebelum ia halal untuk hamba,
Hamba titipkan rasa rindu ini kepada Engkau,
sebelum janji suci itu terucap..

Duhai calon imamku,,
dimanapun dan siapapun engkau,, jagalah baik-baik hati mu..
jagalah baik-baik rasamu, kesetiaanmu..
hingga kita disatukan kelak dalam ikatan suci pernikahan, dengan restu dan ridha_Nya..
jaga kesucian dan kehormatan cintamu seperti aku yang sedang melakukan hal yang sama untuk mu..

............................

Penulis.


Merindu Kesetiaan Datang

Kesetiaan...

Bukan hanya sebuah kata yang tak hanya didamba oleh setiap insan manusia..

Kesetiaan..
Bukan hanya bisa dibuktikan dengan kata-kata atau janji-janji manis belaka tapi juga butuh bukti nyata lewat tindakan/sikap/pebuatan yang kongkrit..

Dua insan manusia memang memiliki fitrah dengan dihadirkannya Cinta dalam hati keduanya oleh Sang Maha Kuasa- Allah SWT,..
Oleh sebab itu sudah selayaknya menjaga kemurnian dan kesucian cinta itu sendiri dalam hati dan sanubari nya masing-masing..

Dua insan manusia yang memiliki ketulusan hati untuk saling mencintai akan selalu berusaha menjaga ketulusan itu meskipun banyak godaan dan rintangan yang kerap datang..
Kejujuran, kepercayaan dan keterbukaan satu sama lain merupakan pondasi utama untuk memaknai arti Kesetiaan itu sendiri..

Bila ketulusan hati telah dinodai dengan adanya ketidakjujuran, ketidakpercayaan dan ketidakketerbukaan satu sama lain,..
maka sejatinya ia telah menodai arti dan makna dari kesetiaan itu sendiri..

Tidak ada yang menjamin bahwa luka yang sudah terlanjur tergores di dalam hati itu akan mudah disembukan, akan mudah dilupakan begitu saja...

Bagi Engkau saudara muslimahku yang masih sendiri, masih belum dipertemukan dengan Jodoh dan sedang menghadapi ujian dalam menanti hadirnya jodoh..
Bersabarlah...
Meski berat, meski hatimu kerap tersakiti, atau kesetiaanmu sering terkhianati... Bersabarlah...
Ada Allah bersama kita, boleh jadi kamu menyukai sesuatu tetapi sesuatu itu tidak baik untukmu dan boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal sesuatu itu adalah yang terbaik untuk mu,, Allah mengetahui segalanya yang terbaik untukmu sedangkan kamu tidak...

.................

Yogyakarta, 23 Juli 2014










Memupuk Sabar

Assalamu'alaikum 

Kehidupan di dunia..
setiap manusia yang hidup di dunia pasti akan diuji oleh Allah baik ujian berupa kesedihan, kesusahan, kesakitan maupun ujian berupa kesenangan. 

Perhatikan firman-firman Allah berikut :

 "Apakah manusia mengira bahawa mereka akan dibiarkan mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji?" (QS Al-Ankabut:2-3).

"Dan sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi itu sebagai perhiasan, agar kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik amal perbuatannya." (QS Al-Kahfi:7-8).

 "Dan kami akan uji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan dan kepada Kami-lah kamu akan kembali." (QS al-Anbiya:35).

Saudaraku yang dirahmati Allah,
terkadang manusia memang sering mengeluh atas ujian yang diberikan Allah terutama jika ujian yang diberikan kepadnya itu berupa kesusahan dan kesedihan. Hidup terasa berat dijalani, rasa sakit dan air mata kerap datang mengiringi.
Namun, bagi hamba Allah yang memiliki keteguhan iman di hatinya, tak akan lantas berputus asa dan terus bersedih hati meratapi apa yang sudah dan sedang terjadi dalam hidupnya. Bagi hamba Allah yang memiliki keteguhan hati di dalam imannya, ia akan senantiasa berupaya untuk terus bersabar dan ikhlas atas segala ujian yang diberikan Allah kepadanya. Karena ia percaya Allah tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan hamba_Nya, ia percaya itu semua adalah ujian hidup yang justru akan semakin meningkatkan iman dan taqwa nya jika kita bisa menerimanya dengan rasa ikhlas dan sabar...
karena ia percaya bahwa semua cobaan dan ujian-ujian itu justru akan semakin membuatnya semakin dekat dengan penciptanya, semakin dekat dengan Allah SWT.

"Berikanlah kabar gembira kepada orang yang sabar...".
Allah memberikan derajat tertinggi bagi hamba-hamba_Nya yang bersabar, Allah akan memberikan balasan Syurga bagi hamba-hambanya yang bersabar...

Memang sulit untuk terus berupaya mengamalkan arti kesabaran itu sendiri, terlebih jika harus dibarengi dengan keikhlasan. Pengalaman pribadi penulis sendiri juga merasakan hal tersebut. Sangat sulit menjadi pribadi yang sabar dan ikhlas,, banyak ujian dan godaanya. Bahkan jika iman kita tidak kuat, kita cenderung akan melakukan hal-hal yang dilarang Allah. Astagfirullah hal adzim..

Dari pengalaman-pengalaman hidup yang penulis rasakan bahkan sampai detik ini, penulis belum benar-benar bisa mengamalkan arti sabar dan ikhlas itu dengan sebenar-benarnya. terkadang masih terbesit rasa sedih, sakit hati dan kecewa menerima perlakuan orang lain, menerima keadaan yang terkadang tidak kita ingini, apa yang terjadi tidak sesuai harapan bahkan karena hal-hal tersebut kita menjadi cederung terbakar emosi, kesal dan marah. Astagfirullah hal adzim..

Sebenarnya apa makna dari kata Sabar itu sendiri???

Sabar menurut bahasa berarti menahan dan mengekang (al-habs wa al-kuf).. Di antaranya disebutkan pada QS.Al-Kahfi[18]: 28 “Dan tahanlah dirimu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan di senja hari dengan mengharap keridhaanNya, dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka.”
Kebalikan sabar adalah jaza’u (sedih dan keluh kesah), sebagaimana di dalam firman Allah QS. Ibrahim [14]: 21, “…sama saja bagi kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.”

Secara terminologis sabar berarti menahan diri dari segala sesuatu yang tidak di sukai karena mengharap ridha Allah.Yang tidak di sukai itu tidak selamanya terdiri dari hal-hal yang tidak di senangi seperti musibah kematian, sakit, kelaparan dan sebagainya, tapi juga bisa berupa hal-hal yang di senangi. Sabar dalam hal ini berarti menahan dan mengekang diri dari memperturutkan hawa nafsu.
Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunia, Nabi Muhammad Shallallahu'Alaihi Wasallam membagi sabar menjadi tiga tingkatan,yaitu :
           1.Kesabaran dalam menghadapi musibah
           2.Kesabaran dalam mematuhi perintah Allah Subhannahu Wa Ta'ala, dan
           3.Kesabaran diri untuk tidak melakukan maksiat.
Macam-Macam Sabar:
1.) Sabar menerima cobaan hidup. 
               Cobaan hidup, baik fisik maupun non fisik, akan menimpa semua orang baik berupa lapar, haus, sakit, rasa takut, kehilangan orang-orang yang di cintai, kerugian harta benda dan lain sebagainya. Cobaan seperti itu bersifat alami, manusiawi, oleh sebab itu tidak ada seorang pun yang dapat menghindar.Yang diperlukan adalah menerimanya dengan penuh kesabaran, seraya memulangkan segala sesuatunya kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala.
2.) Sabar dari Keinginan Hawa Nafsu. 
                 Hawa nafsu menginginkan segala macam kenikmatan hidup,kesenangan dan kemegahan dunia. Untuk mengendalikan segala keinginan itu di butuhkan kesabaran. Jangan sampai semua kesenangan hidup dunia itu membuat orang lupa diri apa lagi lupa Allah Subhannahu wa Ta'ala.
3.) Sabar Dalam Taat Kepada Allah Subhannahu Wa Ta'ala
               Dalam menaati perintah Allah, terutama dalam beribadah kepada-Nya di perlukan kesabaran.
4.) Sabar Dalam Berdakwah .
               Jalan dakwah adalah jalan panjang berliku-liku yang penuh dengan segala onak dan duri. Seseorang yang melalui jalan ini harus memiliki kesabaran.^^
5.) Sabar Dalam Perang.
            Dalam peperangan sangat di perlukan kesabaran, apalagi menghadapi musuh yang lebih banyak atau lebih kuat. Dalam keadaan terdesak sekali pun, seorang prajurit Islam tidak boleh lari meninggalkan medan perang, kecuali sebagai bagian dari siasat perang ( QS. Al-Anfal 15-16 ).
6.) Sabar Dalam Pergaulan. 
              Dalam pergaulan sesama manusia baik antara suami isteri, antara orang tua dengan anak, antara tetangga dengan tetangga, antara guru dan murid, atau dalam masyarakat yang lebih luas, akan ditemui hal-hal yang tidak menyenangkan atau menyinggung perasaan. Oleh sebab itu dalam pergaulan sehari-hari di butuhkan kesabaran sehingga tidak cepat marah, atau memutuskan hubungan apabila menemui hal-hal yang tidak di sukai.
Keutamaan Sabar
Sifat sabar dalam Islam menempati posisi yang istimewa. Al-Qur’an mengaitkan sifat sabar dengan bermacam-macam sifat mulia lainnya. Antara lain di kaitkan dengan keyakinan, syukur, tawakkal, dan taqwa.mengaitkan satu sifat dengan banyak sifat mulia lainnya menunjukkan betapa istimewanya sifat itu. Karena sabar merupakan sifat mulia yang istimewa, tentu dengan sendirinya orang-orang yang sabar juga menempati posisi yang istimewa.
Imbalan Orang Yang Sabar 
1.Dapat berdampingan dengan Allah
2.Memperoleh berita yang menyenangkan
3.Bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak berdosa
4.Di beri pahala yang berlipat
5.Terbebaskan dari siksa api neraka
6. Di cintai oleh Allah Subhannahu wa Ta'ala.

Subhanallah,,
Di setiap kejadian yang terjadi kepada kita pada menyimpan hikmah tersendiri bagi kita yang mau berpikir. 
Saudaraku, ternyata banyak sekali hikmah dan manfaat dari pentingnya kita memiliki sifat sabar itu. Penulis sendiri juga menyadari dan merasakan bahwa tidak ada obat mujarab yang bisa menyembuhkan luka hati dan memberikan kekuatan hati  ketika diuji oleh Allah (baik dengan kesenangan atau kesusahan), selain dengan Sabar...
kemarahan kita, kekesalan kita, tidak akan mampu merubah apapun yang sudah menjadi ketentuan_Nya. Jadi, daripada membuang energi untuk hal-hal yang tidak manfaat, menyesali segala yang telah terjadi, menyalahkan orang lain bahkan diri sendiri, akan lebih baik jika kita mencoba untuk mengambil sikap Sabar. Selain kita bisa menghindari diri untuk tidak melakukan hal-hal negatif yang jelas akan merugikan diri kita sendiri, kita juga dapat semakin dekat dengan Allah karena Allah selalu beserta orang-orang yang sabar...

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk pembaca sekalian, semoga tulisan ini juga bisa menjadi pengingat bagi penulis untuk tidak lupa dan mau terus belajar untuk mengamalkan sikap sabar itu dalam menjalani kehidupan di dunia ini hingga akhir menutup mata nanti.. Insya Allah. Aamiin

Barrakkallahu...
-to be continued-
Wassalamu'alaikum..
Yogyakarta 20 & 22 Juli 2014
Penulis


Referensi :
https://www.facebook.com/Kaze.Kate/posts/495880810453823
Curahan Hati Penulis

Selasa, 15 Juli 2014

Air Mata dan Sakit Hati adalah Ujian

Tidak pernahkah kita berpikir bahwa betapa Allah senantiasa membuat kita bahagia? Apakah kita tidak pernah berpikir bahwa semua air mata dan luka di hati adalah jalan untuk kita lebih mendekatkan diri kepada Allah?

“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah , sesungguhnya pertolongan Allah itu sangat dekat.” (QS.Al Baqarah: 214) 

Sahabat, mari kita merenung sejenak. Apa yang kita lakukan saat kita sedang bersedih. Dari lubuk hati yang paling dalam, akan muncul sebuah pengakuan. Betapa lemahnya diri kita. Betapa rapuhnya iman kita. Betapa bodohnya kita. Dan betapa kecil kita sebagai manusia. Sebuah keyakinan tercipta bahwa betapa Maha Kuasa Allah atas diri kita. Dia Yang Maha Kaya, Maha Berilmu, Maha Perkasa sekaligus Maha Penyayang. Semua keangkuhan sirna dalam sekejap.


Nah, saat diri rapuh dan tidak berdaya, saat itu pula kita mulai yakin bahwa ada yang lebih segala-galanya di atas kita. Sebuah kesejukan menetes membasahi hati yang terbakar. Ada kelembutan membelai pikiran yang gersang. Sebuah genggaman dahsyat yang membantu kita untuk bangkit kembali, melanjutkan kehidupan yang lebih baik.


Sahabat, begitulah cara Allah membahagiakan kita. Dengan menguji kita lewat berbagai macam penyakit, baik itu penyakit fisik dan sakit hati. Karena penyakit itulah, seseorang akan tersadar dari semua keangkuhan dan mengakui semua kesalahan yang telah kita perbuat dan segera bertaubat. Dengan ujian-ujian itu pula kita sebagai manusia merasa sangat kecil, merasa diri ini betul-betul seorang hamba yang bergantung hanya kepada Allah. Saat kita tersadar dari segala perjalanan dosa, mulailah kita memperbaiki kualitas ibadah kita dan mendekatkan diri kepada Allah.
Betapa Allah sangat mencintai hambanya. Betapa Allah ingin kita berada dekat dengan-Nya. Bukankah kebahagian itu jika kita berada dekat dengan yang kita cintai? Dan hanya Allah-lah yang memiliki cinta sejati itu. 


Nikmat Allah selalu lebih besar dari cobaannya.
“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Fatihah:2-3) 
Allah Maha Pemurah. Allah Maha Penyayang. Cobalah hitung berapa banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Seumur hidup kita tidak akan sanggup karena saking banyaknya. Lalu apa yang kita khawatirkan? Apa yang membuat kita gelisah?


Kita pasti mengetahui bahwa apa yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah. Bahkan nyawa kita adalah milik-Nya. Mengapa hanya karena kehilangan kaki seseorang merasa kehilangan segala-galanya? Bukankah ia masih memiliki anggota badan yang lainnya? Mengapa setelah ditinggal kekasih, seorang pemuda atau pemudi menjadi frustasi? Bukankah jodoh itu sudah diatur oleh Allah? Mengapa hanya karena tidak lulus ujian seorang siswa rela menghilangkan nyawanya? Bukan, bukan itu tujuan Allah memberi kita penyakit.


Ingatlah selalu bahwa Allah itu Maha Pemurah. Nikmat yang Allah berikan selalu lebih besar dari cobaan-Nya. Bukankah orang yang kakinya buntung masih mempunyai tangan untuk menggenggam, masih mempunyai mata untuk melihat kebesaran Allah, masih dapat mendengar seruan Allah? Bukankah orang yang buta sekalipun juga diberi kelebihan oleh Allah dengan insting yang kuat? Lalu apa yang harus kita sesali dengan begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan? Apa yang membuat kita bersedih?
“Maka, nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian dustakan?” (QS. Ar-Rahman:13)


Yakinlah, bahwa di balik setiap tetes air mata, selalu ada sejuta senyum yang menanti. Di balik sayatan luka di hati, selalu ada sejuta kebahagiaan yang siap menyambut. Dan yakinlah, bersama dengan kesulitan pasti ada kemudahan. Itu janji Allah…


Intan dalam Duri
“Maka, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah:5-6) 


Jalan menuju kebahagiaan memang tidaklah selalu mudah. Ada saja rintangan yang menghadang. Setan bekerja keras melaksanakan tugasnya. Menggoda manusia, memberi was-was ke dalam hati mereka. Bagi orang yang lemah imannya, kurang cintanya terhadap Allah, pastilah dengan senang hati mengikuti bujuk rayu dan tipu daya para setan. Sebaliknya, orang-orang yang begitu mencintai Allah akan menempuh jalan merintang sekalipun. Dan orang-orang seperti itulah yang akan memperoleh kemenangan dan kebahagiaan. Menjadi pemenang atas godaan setan, berhasil membuktikan penghambaannya kepada Allah dan menjadi bahagia karena pahala yang dicurahkan kepadanya serta kemenangan yang terbesar adalah saat perjumpaan dengan Allah.


Untuk mencapai sebuah kebahagiaan, di perlukan pengorbanan dan kerja keras. Jangan mudah putus asa mencari rahmat Allah. Ibaratkan Dia memberikan kita sebuah hadiah berupa sebongkah intan tetapi hadiah tersebut di bungkus dengan kertas berduri. Apakah kita punya nyali untuk membukanya? Mungkin tangan kita akan berdarah, mungkin juga tidak. Dengan petunjuk cara membukanya, kita akan selamat dari duri-duri dan berhasil membuka hadiah tersebut. Akhirnya kita mendapat isi dari kotak itu.
Sama seperti dalam kehidupan, segala rintangan untuk mencapai sebuah kebahagian pastilah ada. Kalau rintangan tersebut kita anggap sebagai penghalang, ia akan betul-betul menghalangi langkah kita. Tapi, jika kita menganggap mereka sebagai tantangan, itu jauh lebih baik. Dalam menghadapi tantangan, kita harus menggunakan ilmu sesuai dengan petunjuk Allah. Dengan ilmu itulah kita dapat keluar dari permasalahan yang ada dan memperoleh hadiah yaitu kebahagiaan. 


Cara Berbahagia
1. Syukur
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya, jika kalian bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat_Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim:7) 


Orang-orang yang bahagia adalah mereka yang senantiasa bersyukur. Dengan bersyukur hidup akan menjadi lebih bahagia. Syukurilah apa yang ada di hadapan kita. Tidak lupa bersyukur atas apa yang telah kita peroleh di masa lalu. Jangan mencari yang tidak ada, jangan meresahkan kelebihan orang lain karena Allah juga telah menitipkan potensi ke dalam diri kita untuk dikembangkan.
Banyak orang yang terjebak di masa lalu. Menangisi kegagalannya, menyesali kesalahan-kesalahan saat itu. Kita harus berhati-hati. Sebesar apapun penyesalan kita, masa lalu tidak akan kembali dan tidak akan terulang lagi. Jangan sampai kegagalan membuat kita sedih berkepanjangan. Jangan sampai musibah yang kita alami membuat kita lalai dan melupakan semua nikmat yang telah Allah berikan, kufur atas nikmat Allah. Jangan pernah sedetikpun lidah kita absen dari ucapan syukur, memuji Allah Yang Maha Pemurah.
Masa sekarang adalah sebuah kenyataan. Tepat berada di hadapan kita. Bersyukurlah karena hari pagi ini kita masih bisa menghirup udara bebas, bersyukur akan hidangan yang lezat di depan kita, bersyukur karena kita dikelilingi oleh keluarga dan sahabat yang menyayangi. Bersyukur atas semua cinta yang telah diberi Allah kepada kita. Bersyukurlah agar kita menjadi orang yang paling bahagia. 


2. Ikhlas
Ikhlas karena Allah. Kalimat yang mudah diucapkan namun kadang dalam prakteknya bertentangan. Mulailah dengan niat karena Allah. Segala sesuatu yang kita lakukan, baik itu bekerja, mencari nafkah atau belajar adalah ikhlas demi mendapatkan ridha Allah semata.


Tidak sedikit orang yang menyia-nyiakan usaha kerasnya. Mengapa sia-sia? Karena tujuannya bukan karena Allah. Tujuannya hanyalah mencari kesenangan dunia semata. Kalau sudah tujuannya dunia, orang-orang seperti itu akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kebahagiaan. Walaupun kebahagiaannya itu semu dan hanya sesaat. Dan balasannya pun bisa berupa murka Allah di dunia dan di akhirat. 


Gantungkan tujuan dan cita-cita kita hanya kepada Allah. Karena hanya Allah-lah Yang Maha Pemberi, Allah Yang Maha Penyayang. Hanya Allah yang dapat membalas semua perbuatan kita.
Orang-orang yang bekerja dan hanya mengharapkan ridha Allah, merekalah yang memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat kelak. Setiap langkah adalah ibadah ikhlas kepada Allah dan setiap ucapannya adalah dzikir, perkataan yang baik, serta nasihat-nasihat kepada sesama. Begitulah, orang-orang yang berjuang dengan niat yang ikhlas mengharapkan ridha Allah, senantiasa menjaga perilakunya 

Selain pada niat, ikhlas juga akan tercermin pada sikap yang mudah memaafkan. Bagaimana kita melupakan semua kesalahan orang yang pernah menyakiti. Sulit memang, tapi yakinlah kalau kita bisa! 
Bergurulah pada Nabi Muhammad . Bagaimana beliau yang lembut hatinya dengan sabar menerima semua ejekan dan cacian dari orang-orang kafir saat menyebarkan Islam. Pada saat salah satu dari orang kafir tersebut jatuh sakit, apa yang dilakukan kekasih Allah ini? Beliau datang kerumah orang itu, menjenguknya. Subhanallah! Luar biasa! Begitu besar rasa ikhlas untuk memaafkan pada diri Rasulullah. Tidak ada dendam sedikit pun. Dengan ikhlas hati kita menjadi lapang. Dengan kelapangan tersebutlah kebahagiaan akan didapatkan. 


3. Sabar
“Hai orang-oang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolong kalian, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al- Baqarah:45)


Sabar dalam menjalani kehidupan akan tercermin pada pribadi yang lapang dada, tabah, dan pantang menyerah. Sabar bukan berarti menerima begitu saja dan menunggu datangnya keajaiban.
Sabar dalam bekerja, mencari nafkah adalah mengerahkan segala upaya, pantang menyerah, memaksimalkan potensi untuk dimanfaatkan oleh orang lain. Sabar dalam menuntut ilmu adalah dengan tekun belajar, mengatur waktu dengan baik, memahami dan mencerna pokok-pokok yang diajarkan dan yang lebih penting adalah mengamalkannya di jalan Allah .


Dengan kesabaran, jiwa kita akan terasa lapang. Keyakinan akan janji Allah semakin kuat. Orang-orang yang sabar akan berdiri laksana gunung yang kokoh menancapkan kakinya, berjalan di jalan yang diridhai Allah. Akhirnya, orang-orang yang sabarlah yang akan menjadi pemenang dan berbahagia. 


4. Berpikir Positif
“Aku sesuai sangkaan hamba-Ku kepada-Ku, maka ia bebas berprasangka apa saja kepada-Ku.” (Hadist Qudsi) 


Pikirkanlah yang indah-indah, maka hidupmu akan menjadi indah. Berpikir positif terhadap segala sesuatu yang menimpa kita dapat menciptakan sebuah semangat untuk menjalani hidup ini.
Jika kita senantiasa berpikiran negatif, segala sesuatu yang kita kerjakan pun akan bernilai negatif. Contoh, ada seseorang yang berpikiran bahwa musibah adalah sesuatu yang menyakitkan, musibah adalah penghalang untuk mencapai cita-cita, kemudian disikapi dengan berkeluh kesah dan bersedih terus menerus. Apa yang terjadi kemudian? Bisa jadi orang tersebut akan mengalami gangguan jiwa seperti stress dan depresi. Belum lagi fisik yang semakin lemah akibat hilangnya nafsu makan. Sungguh rugi orang-orang yang mempunyai pikiran negatif. 


Orang-orang yang mempunyai pikiran positif akan menganggap musibah itu sebagai ujian dan tantangan. Bisa jadi mereka berpikiran bahwa musibah itu adalah hadiah untuk mendekatkan diri kepada Allah . Semangat dan optimis akan tercipta dalam setiap langkahnya. Dengan jiwa yang optimis itu pula, orang yang berpikiran positif akan senantiasa mengembangkan potensi dalam dirinya, untuk menjadi pribadi yang unggul. Sungguh bahagialah orang-orang yang senantiasa berpikiran positif. 


5. Berbuat Baik
“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran:110) 


Marilah kita berlomba-lomba untuk berbuat baik agar kita bahagia. Berbuat baik pada diri sendiri seperti memperbaiki kualitas shalat, mengkaji Al-Qur’an dan menuntut ilmu. Shalat yang khusyuk akan membuat hati dan pikiran kita menjadi tenang. Dengan mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an kita bisa menemukan rahasia kehidupan ini. Berbagai macam ilmu ada di dalamnya. Itulah yang membuat kita menjadi orang yang cerdas.


Berbuat baik kepada orang lain adalah wajib hukumnya. Berbuat baik kepada orang tua dengan menjadi anak yang saleh/salehah. Menyambung tali silaturahmi, tersenyum kepada orang lain, mengajarkan ilmu yang bermanfaat, saling menasehati untuk berbuat baik dan menegur teman yang berbuat salah.
Bersedekah juga salah satu cara untuk berbuat baik kepada orang lain. Dalam harta yang kita miliki ada hak orang lain. Kekayaan kita bukan tercermin pada berapa banyak saldo tabungan di bank, bukan seberapa tinggi tumpukan emas di lemari, bukan pula berapa banyak mobil mewah yang diparkir di garasi mobil. Kekayaan kita dapat dilihat dari berapa banyak yang telah kita beri kepada orang lain, baik itu harta benda ataupun ilmu yang bermanfaat, ikhlas karena Allah. 


Apa yang kita rasakan saat memberi seorang pengemis selembar uang seribuan dan tersenyum bahagia karenanya? Bahagia bukan? Kebahagiaan kita terletak pada bahagia orang lain. Jika kita membahagiakan diri sendiri, kita hanya mempunyai satu point bahagia. Jika kita membahagiakan sepuluh orang, maka kita mempunyai sepuluh point bahagia. Jadi berbuat baiklah kepada semua orang, tentunya dengan hati yang ikhlas untuk mendapatkan ridha Allah. 


“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107) 


6. Percaya Akan Janji Allah
“Allah menjanjikan kepada orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di surga ‘Adn. Dan keridaan Allah lebih besar. Dan itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah: 72) 
Percayalah kepada Allah. Jangan ada keraguan sedikitpun di hati kita. Mungkin apa yang kita peroleh saat ini bertolak belakang dengan apa yang kita inginkan. Yakinlah bahwa itulah yang terbaik buat kita. Allah sangat sayang kepada hamba-hambanya yang berbuat baik. 


Allah memang tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan. Dia akan senantiasa memberikan apa yang kita butuhkan. Semua kebutuhan sebagai bekal untuk bertemu dengan-Nya sudah tersedia. Hanya saja kita yang tidak melihat atau bahkan tidak peduli dengan seruan tersebut.


Jadi, berdoa dan berbuat baik adalah kuncinya. Setelah itu, serahkan semua kepada Allah Yang Maha Adil. Bisa jadi kita tidak akan menerima imbalan di dunia. Hadiah tersebut akan kita terima di akhirat kelak. Dan yakinlah, hadiah itu pasti lebih indah dari dunia dan isinya. Pertemuan dengan Allah. 


Sumber: 
http://diarymukminah.blogspot.com/2011/09/air-mata-sakit-hati-ujian.html